Showing posts with label Aticle. Show all posts
Showing posts with label Aticle. Show all posts

Saturday, January 25, 2014

Inilah “Mehmed II Cannon” Meriam Penghancur Benteng Konstantinopel


Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad al-Fatih (mehmed II 1432-1481M), Kerajaan Utsmani sudah mulai mengembangkan meriam. Teknologi meriam yang dikembangkan pada era kejayaan Utsmani tersebut terbilang paling mutakhir. Pengembangan artileri meriam yang konferehensif Ini terkait karena niat sultan Memed II yang ingin menaklukkan konstantinopel disamping untuk menjaga kedaulatan kesultanan itu sendiri.

Sang Penakluk – begitu Sultan Muhammad II dijuluki – sengaja memesan meriam berukuran raksasa yang belum ada sebelumnya. “Aku dapat membuat meriam tembaga dengan kapasitas seperti yang Anda inginkan,” kata Orban -seorang ahli insinyur yang diundang Al-Fatih ke Adrianopel (ibukota Ottoman), “Aku telah mengamati secara detail tembok di Konstantinopel. Aku tidak hanya akan memorakporandakan tembok itu dengan senjataku. Bahkan, tembok Babilonia pun akan hancur karenanya”.

Diciptakan pada 1464 M dan merupakan meriam terhebat di dunia kala itu. Meriam raksasa yang dikenal dengan Meriam Mehmed II itu berbobot mencapai 18 ton. Panjangnya sekitar 5,23 meter dan diameternya mencapai 0,635 meter. Panjang laranya mencapai 3,15 meter dan tempat mesiunya berdiameter 0,248 meter. Meriam ini sanggup melontarkan bola besi padat berdiameter 70 cm dengan berat 680 kg sejauh 1,6 km. meriam mehmed II di museum Fort Nelson Meriam Mehmed II (The Mohammed’s Greats Gun) Pasukan artileri (bagian meriam) yang dimiliki Sultan Muhammad juga diperkuat oleh sederet desainer dan insinyur yang mumpuni di bidang teknologi persenjataan. Beberapa ahli meriam yang termasyhur yang bergabung dalam tim artileri itu antara lain, Saruca Usta dan Muslihiddin Usta. Tak sedikit pula non-Muslim bergabung dalam kelompok artileri. Mereka adalah orang-orang miskin yang tak puas dengan kebijakan Bizantium.

Saat menaklukkan Konstantinopel, — ibu kota Bizantium — pasukan tentara Utsmani mengepung dan menjebol benteng pertahanan musuh dengan meriam tersebut. Senjata meriam raksasa yang diciptakan pada masa kejayaan Daulah Utsmani itu memiliki daya jangkau dan daya ledak yang terbilang luar biasa. Dalam Pertempuran Dardanelles, meriam itu mampu menenggelamkan enam kapal Sir John Ducksworth. Jangkauan Meriam Mehmet II mampu melintasi selat sejauh satu mil.

Pasukan Sultan mengepung Konstanstinopel dengan enam puluh sembilan senjata artileri di lima belas tempat terpisah. Rentetan tembakan meriam Utsmaniyah berlangsung selama 40 hari, dan diperkirakan jumlah tembakan mencapai 19.320 kali. Wajar dengan tembakan sebanyak itu karena kita tahu Konstantinopel sangat “tidak mungkin” untuk ditaklukkan pada waktu itu. Kejatuhan konstantinopel membuktikan keefektifan penggunaan artileri pada perang yang akhirnya mengakhiri kekaisaran Bizantium.

“Mehmed II Cannon”, meriam mehmed II (The Mohammed’s Greats Gun) Meriam raksasa itu kini berada di Fort Nelson Museum. Kabarnya meriam itu dihadiahkan Sultan Abdul Aziz kepada Ratu Victoria sebagai hadiah. Pada saat berkuasa Sultan Abdul Aziz sempat diundang oleh Ratu Victoria. Setahun kemudian, meriam bersejarah itu pun dihibahkan kepada sang ratu.


Sumber

Si Burung Besar

Di depan saya terdapat onggokan besar di tanah yang tampak seperti lumpur lembap berwarna keunguan. Benda itu kira-kira sebesar besek, dan penuh dengan biji-bijian—lebih dari 50. Beberapa lebih besar daripada biji avokad.

Saya berlutut untuk meneliti lebih saksama. Saya memeriksa baunya dengan mendekatkan hidung ke onggokan itu. Aromanya seperti campuran buah dengan bau kecut yang samar. Baunya khas. Lumayan sedap.

Apa itu? Feses burung. Feses burung yang sangat besar. Keluar dari burung besar.

Saya berdiri dan melihat ke sekeliling. Saya berada di Hutan Daintree, dua jam perjalanan bermobil menyusuri pantai dari kota pesisir Cairns, di ujung utara Australia. Di pohon di samping saya, terlihat seekor naga hutan Boyd. Tidak jauh dari situ, terdengar serangga bernyanyi. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan burung besar.

Sebetulnya, sekalipun burung itu berada di balik pepohonan, mungkin saja saya tetap tidak bisa melihatnya. Meskipun besar, burung itu tersamarkan dengan baik di dalam hutan.

Burung yang sedang saya bicarakan? Casuarius casuarius, kasuari gelambir ganda, pemakan buah terbesar di hutan hujan Australia.

Kasuari merupakan burung besar yang tak bisa terbang yang masih berkerabat dengan emu dan (lebih jauh lagi) dengan burung unta, rhea, dan kiwi. Saat ini ada tiga spesies. Dua spesies hanya hidup di hutan hujan Papua dan pulau-pulau di sekitarnya. Yang ketiga dan terbesar—kasuari gelambir ganda—juga hidup di kawasan Wet Tropics di Queensland utara. Beberapa hidup di tengah kawasan hutan hujan, seperti Daintree; yang lain hidup di pinggir hutan dan dapat berkeliaran sampai ke permukiman.

Namun, kasuari sangat berbeda dengan burung yang biasa kita temui di taman. Jika jantan dewasa menegakkan badan dan lehernya, dia bisa melampaui orang setinggi 165 cm—contohnya saya—dan beratnya dapat melebihi 50 kilogram. Betina dewasa bahkan lebih tinggi lagi, dan beratnya dapat lebih dari 73 kilogram. Di antara semua burung yang masih hidup saat ini, hanya burung untalah yang lebih besar.

Bulunya hitam berkilat; kakinya bersisik. Kakinya hanya berjari tiga—dan jari tengah di kedua kaki berkembang menjadi taji yang menakutkan. Sayapnya kecil. Namun lehernya panjang, dan hanya ditumbuhi lapisan tipis bulu sua pendek yang mirip rambut. Kulitnya justru memiliki berbagai nuansa merah, jingga, ungu, dan biru yang menakjubkan. Pada pangkal leher bagian depan, menggelepai sepasang gelambir kulit berwarna-warni yang biasa disebut pial. Kasuari memiliki mata cokelat besar dan paruh melengkung yang panjang. Di atas kepalanya terdapat balung tinggi yang mirip tanduk.

Kita cukup melihat dua atau tiga ekor burung ini saja untuk mengetahui bahwa tidak seperti, misalnya saja, burung pipit, kasuari dapat dengan mudah dibedakan satu sama lain. Ada yang memiliki pial panjang nan indah dengan balung lurus; ada yang balungnya miring. Ciri individu yang tegas ini, di samping ukurannya dan fakta bahwa burung ini tidak dapat terbang, membuatnya mirip dengan manusia: Hewan ini bergerak seperti manusia, seukuran dengan manusia, dan mudah dibedakan. Karena itulah, hewan ini biasa diberi nama—seperti Crinklecut, Big Bertha, atau Dad.

Ini juga mungkin menjelaskan mengapa burung ini sedari dulu menjadi bagian mitologi suku-suku di dalam hutan hujan. Ada yang meyakini bahwa kasuari masih berkerabat dengan manusia; ada yang meyakini bahwa burung ini merupakan titisan manusia; ada pula yang meyakini bahwa manusia diciptakan dari bulu kasuari betina. Namun, tidak seperti pada manusia, burung jantanlah yang bertanggung jawab membesarkan anak—mengerami telur, dan merawat piyiknya selama sembilan bulan atau lebih—sehingga menimbulkan iri kaum perempuan terhadap kasuari betina.

Aura gaib ini diperkuat oleh reputasi kasuari sebagai burung yang berbahaya. Dan tentu saja jika kita mengurungnya di kandang dan mengejarnya dengan garu—kalau melihat video di YouTube, memang ada yang melakukannya—hewan ini memang membahayakan. Badannya besar, memiliki cakar serta tendangan yang kuat, dan hewan ini tidak ragu-ragu menggunakannya. Jika kita mendekati jantan beranak muda, dia mungkin memerap dan menerjang guna melindungi anaknya. Jika manusia mencoba menangkap atau membunuh kasuari, burung ini akan melawan—dan dapat membuat manusia keok. Kadang-kadang burung ini membunuh anjing.

Namun, mari kita lihat faktanya. Jika dibiarkan dan tidak diganggu, kasuari merupakan makhluk pemalu yang cinta damai dan tidak berbahaya. Di Australia, peristiwa terakhir kasuari membunuh manusia terjadi pada 1926—dan itu untuk membela diri.

Wilayah burung kasuari yang dinamai Dad berada di dekat Kuranda, sebuah kota kecil di bukit tidak jauh dari Cairns; dia telah tinggal di sana selama setidaknya 30 tahun. Wilayahnya meliputi sepetak hutan lebat, jalan, dan taman Cassowary House, penginapan tempat saya tinggal selama beberapa hari. Dan ketika saya duduk minum kopi di beranda, Dad dan tiga anaknya berjalan santai di halaman.

Balung Dad terlihat miring dan agak berkerumuk. Piyiknya, berumur sekitar empat minggu dan hampir setinggi lutut, membuat suara ciap ciut yang lucu sambil berlari ke sana kemari. Kasuari jantan itu lebih banyak diam—tetapi sesekali dia mengatupkan kedua paruhnya, membuat bunyi ketak yang keras. Dia juga bersendawa. Dan terkadang ia berdebum.

Pembawaan anak-anaknya terlihat jelas perbedaannya. Ada satu yang berjiwa petualang, dan berkeliaran jauh dari keluarganya. Anak yang lain pemalu, dan selalu dekat dengan Dad. Yang satu ini sering mencari perhatian bapaknya. Sesekali keduanya menyentuhkan ujung paruhnya—ciuman kasuari?—tetapi kontak ini tampaknya merupakan keinginan sang anak, bukan sang bapak.


OLEH OLIVIA JUDSON
FOTO OLEH CHRISTIAN ZIEGLER
nationalgeographic.co.id

Friday, January 24, 2014

Sang Naga di Barat Jakarta

Cumei bangun kesiangan. Perempuan muda dengan pergelangan tangan kiri bertoreh rajah beraksara Tibet itu bergegas keluar dari kamarnya. Dia menyungging senyuman. Matanya yang sipit tampak kian sipit lantaran kurang tidur. Sanak saudara yang sejak tadi menunggunya di luar segera bergantian menyampaikan selamat atas hari jadinya: kado pelukan dan kecupan mesra. Hari itu Cumei berusia 29 tahun.

Semenjak dua hari lalu, rumahnya berhias tenda merah hati dengan semarak bunga-bunga. Kedamaian rumahnya itu berpadu dengan deru truk-truk pengangkut pasir dan batu gunung yang menghamburkan debu akhir musim kemarau yang menyesakkan.

Nama Cumei bermakna 'adik perempuan terakhir'. Dia tinggal tak jauh dari perempatan Pasar Prumpung, Desa Gunungsindur, sekitar dua kilometer lepas dari perbatasan dengan Kota Tangerang Selatan, Banten. Sekitar sepertiga penduduk desa itu dinaungi oleh satu klenteng di belakang pasar. Meskipun desanya merupakan bagian dari wilayah Bogor-Jawa Barat, tampaknya masyarakat di sini lebih dekat pertaliannya dengan Tangerang-Banten, khususnya soal ekonomi dan budaya.

Tiga pemusik udik mulai menguarkan suara kendang, gong, dan tehyan (rebab Cina). Semalam, juga malam nanti, mereka mengiringi gambang kromong dan cokek yang melantunkan kidung stambul lawas di teras rumahnya.

Ini bukan pesta biasa. Hari ini Cumei dan Candra, suaminya, akan melangsungkan ciotau, pernikahan dalam tradisi Konghucu yang telah diadopsi sebagai budaya Cina Benteng. Maknanya 'menjalin rambut ke atas', sebuah ritual inisiasi perubahan dari sosok lajang menjadi pasangan yang telah menikah.

Sesungguhnya, mereka berdua telah menikah secara Buddha dua bulan sebelumnya di wihara Padumuttara yang menjadi bagian Boen Tek Bio, klenteng tertua di Tangerang. Dahulu, setiap pasangan yang menikah harus melewati ritual ciotau. Namun, kini tidak ada batasan kapan harus melaksanakan tradisi ini, utamanya hanya dilakukan sekali seumur hidup.

Upacara ini merupakan salah satu ritual terpenting dalam kehidupan orang Konghucu. Meskipun Cumei merupakan satu-satunya penganut Buddha Mahayana dalam keluarga Konghucu yang teguh, dia tidak canggung melakukan ritual itu. Hal yang harus selalu dia ingat: cara hormat tradisi Konghucu—berbeda dengan kebiasaannya berhormat dalam Buddha.

Aroma setanggi ladan yang terbakar mulai menyeruak di ruang tamu. Cumei duduk di kursi menghadap pelataran depan rumahnya. Berbusana panjang warna putih dan bawahan kain hijau berlanggam bunga dan burung phoenix, dia membelakangi meja abu leluhur yang memajang foto hitam-putih almarhum ayahnya. Layaknya seorang pengantin, pagi itu Cumei bertabur perhiasan klasik. Alas kakinya, selop warna merah berhias manik-manik yang membentuk pola naga.

Mama, encek (paman), dan seorang keponakan yang belia secara bersama-sama mulai menjalin dan menyisir rambut Cumei yang panjangnya sepunggung. Dia duduk menghadap bangku yang berisi gantang bercat merah berlukis naga. Gantang itu berisi beras yang di atasnya ditancapkan cermin, sisir, gunting, benang, penggaris, timbangan antik, primbon lawas beraksara Cina, dan dua lilin merah yang menyala. Semuanya bermakna, laksana pesan leluhur kepada mempelai.

Setelah menyisir dan menggelung rambutnya ke atas, juru rias menusukkan 25 bunga konde goyang dari besi tempa—yang jelas terbayang beratnya. Rona wajah Cumei pun tampak tulus menikmati beban di kepalanya itu.

Sebelum prosesi ini berlangsung, saya teringat Cumei pernah bercerita ke
pada saya. "Rangkaian bunga itu ada artinya, kayak beban berat," ujar Cumei. "Katanya sih, semakin kita bilang berat, maka dia semakin berat."

"Ingin ciotau karena adat," ujar Cumei. "Bagi yang ciotau mungkin kelak kalau sudah meninggal bisa ketemu lagi dengan pasangan kita di sana." Dia bertekad atas keinginan sendiri untuk menggunakan upacara yang mulai jarang dipakai orang, meskipun sejatinya dia tidak mengerti benar filosofi di setiap rangkaiannya.

Pada awalnya, keluarga besar justru me­ragukan kesungguhan Cumei karena tidak mudah menjalani ritual sakral ini. Namun, pada akhirnya mereka mendukungnya karena orang tua Cumei dan Candra pun dulu menikah dengan upacara ini.


OLEH MAHANDIS Y. THAMRIN
FOTO OLEH YUNAIDI
nationalgeographic.co.id

Wow, Pohon Ini Dianggap Paling Beracun di Dunia

Disekitar lingkungan kita banyak tanaman beracun yang tumbuh, tetapi pohon yang bernama Manchineel ini dianggap sebagai pohon paling beracun di dunia dan masuk dalam Guiness Records. Bahkan karena bahayanya, maka pohon ini diberi papan peringatan.

Tentunya papan peringatan tersebut dibuat agar, manusia tidak mendekati pohon yang bisa berakibat fatal. Manchineel ini mengandung racun dalam berbagai level sehingga manusia dihimbau untuk selalu menjaga jarak dengan pohon tersebut.

Dilansir dari Mirror, tanaman yang memiliki buah seperti apel ini memang banyak menarik perhatian orang, tapi hanya menggigitnya satu kali saja kamu bisa masuk UGD. Tak heran buah itu dinamai manzanita de la muerte alias buah kematian oleh Christopher Columbus.

Sementara itu, Nicola H Strickland, konsultan radiologi, pernah menjadi korban racun pada buahnya yang ternyata rasanya manis. “Lama-lama ada rasa pedas aneh di mulut yang berkembang menjadi terbakar seperti tenggorokan dirobek dan sesak nafas,” ungkapnya. Efeknya bertahan 2 jam yang membuatnya tidak bisa menelan apapun dan butuh 8 jam untuk reda kembali ke normal. Tak hanya itu, getah putih susu pada batangnya juga sangat beracun, setetes saja bisa menyebabkan kulit lecet, dermatitis, bengkak atau luka bakar. Bahkan banyak traveller yang mengalaminya saat berteduh dari hujan di bawah Manchineel karena tidak tahu bahayanya. Getah dari batang yang terbawa tetesan hujan pun juga menyebabkan luka.

Manchineel berwana hijau terang, daun oval dan dapat tumbuh setinggi 50 kaki serta menggunakan buah yang manis sebagai jebakan. Jenis ini biasanya tumbuh di Bahama, Florida dan Karibia. Asap dari bagian Manchineel yang terbakar bahkan juga bisa menyebabkan kebutaan sementara hingga permanen.


DREAMERSRADIO.COM

Kepergok Anak Saat Berhubungan Intim? Jangan Panik!

Mencari waktu untuk bermesraan dengan pasangan dirasa sulit saat telah memiliki buah hati. Anda dan pasangan tentu tak ingin kepergok ketika berada di atas tempat tidur sedang berhubungan badan. Nah, bila berada dalam situasi ini apa yang harus dilakukan? Pertama, hindari reaksi alami seperti panik atau terkejut. Shauna Knox dari klinik sosial berlisensi (LICSW) menyebut Anda dan pasangan harus mengenali tugasnya sebagai orangtua, bahkan dalam situasi paling memalukan.

“Reaksi pertama mungkin berteriak pada anak-anak dan mengusir mereka keluar. Namun pikirkan lagi mengenai hal itu jika berada di posisi mereka,” saran Knox.

Jika anak-anak masih kecil, mereka tidak memiliki bayangan mengenai akvitas seksual yang dilakukan orangtuanya. Apakah itu suara-suara atau gerakan yang mereka lihat. Namun biasanya ada kekhawatiran jika kedua orangtuanya sakit secara fisik dan aktivitas itu sangat buruk.

Sebuah penjelasan dibutuhkan untuk mengatasi ketakutan yang dirasakan anak. “Secara sederhana jawab pertanyaan mereka. Katakan jika yang dilakukan orangtua itu adalah hal normal, namun sangat pribadi,” kata Knox.

Berapapun usia anak, merupakan tugas orangtua untuk menjelaskan hal tersebut sebaik mungkin. Sebagian orangtua mungkin merasa malu atau sulit menjelaskan hal tersebut. Namun Knox meminta orangtua mengingatkan sang anak, jika mereka berbicara/berjalan sebagai manusia, seperti halnya si anak.

Yang perlu diingat adalah penjelasan kepada anak tergantung usianya. Anak kecil mungkin tidak perlu mendapat penjelasan panjang mengenai seks dan anatomi tubuh pria dan perempuan.

Sedangkan anak yang lebih dewasa mungkin mengerti apa hubungan seks itu. “Tentunya setiap orangtua tak ingin hal tersebut menjadi memori traumatis bagi mereka,” kata Knox.

Dengan anak yang berusia dewasa, orangtua bisa memberikan informasi yang lebih mudah, dan tekankan jika hal itu merupakan cara orangtua untuk mengekspresikan cinta satu sama lain.Dan lain kali, jangan lupa mengunci pintu saat hendak bermesraan dengan pasangan!


(SURYA/Titis Jati Permata)@TRIBUNNEWS.COM

Copyright @ 2013 kyodeef®.